Menu

Mode Gelap
Sebanyak 70 Orang di Kentucky, AS Tewas usai Diterjang Tornado Dahsyat Kemendag Cabut Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Berita Populer: Uji Coba Gage ke Anyer-Kunjungan Wisman 2022 Diprediksi Rendah Bosen Kerja Kantoran? Jadi Atlet MMA Aja! Di Negeri Sawit, Minyak Goreng Tak Terjangkau Belum Punya Mobil saat Merintis Karier, Andre Taulany: Ke Mana-mana Naik Angkot

Berita

Penggawa Melayu Riau Nilai Dugaan Langkah Agrinas Sebagai Provokasi di Tanah Adat

badge-check


					Penggawa Melayu Riau Nilai Dugaan Langkah Agrinas Sebagai Provokasi di Tanah Adat Perbesar

RANTAU KASAI,BACARIAU.COM — Situasi di lahan sawit milik Masyarakat Adat Rantau Kasai memanas. Sabtu, 14 Februari 2026 sekitar pukul 14.00 WIB, sekelompok orang dilaporkan mendatangi area kebun yang selama ini diklaim sebagai wilayah kelola adat. Kehadiran kelompok tersebut diduga berkaitan dengan pihak Agrinas.

Informasi itu segera memicu respons keras dari Penggawa Melayu Riau.

Komandan Pasukan Khusus Penggawa Melayu Riau, Dt. Syarifuddin Anju, menyebut langkah tersebut sebagai tindakan yang berpotensi menciptakan ketegangan sosial di wilayah adat. Ia menyatakan telah menerima titah dari Panglima Tinggi Penggawa Melayu Riau, Dt. Afrizal Anjo, untuk melakukan konsolidasi organisasi.

Menurut Syarifuddin, persoalan di Rantau Kasai bukan sekadar sengketa teknis perkebunan. “Ini menyangkut hak adat dan marwah masyarakat Melayu di tanahnya sendiri,” ujarnya.

Penggawa Melayu Riau menyatakan 24 organisasi kemelayuan telah menyepakati pengiriman perwakilan ke Rantau Kasai. Total 1.200 orang disebut siap turun pada Senin mendatang. Masing-masing organisasi mengirimkan 50 orang.

Langkah ini, kata mereka, merupakan bentuk solidaritas terhadap masyarakat adat yang merasa tertekan oleh kehadiran kelompok yang dianggap bukan bagian dari komunitas setempat.

Penggawa Melayu Riau menilai, apabila benar terdapat mobilisasi pihak luar untuk memasuki wilayah adat tanpa komunikasi yang layak, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap struktur sosial tempatan.

Dalam pernyataannya, Penggawa Melayu Riau menyoroti dugaan adanya pola “pecah belah” yang dapat memicu konflik horizontal. Mereka menilai mendatangkan kelompok tak dikenal ke tengah masyarakat adat merupakan langkah yang tidak sensitif terhadap kondisi sosial.

“Jangan jadikan masyarakat adat sebagai tamu di rumahnya sendiri,” kata Syarifuddin.

Ia menegaskan, masyarakat adat memiliki legitimasi historis dan sosial atas ruang hidupnya. Segala bentuk intervensi tanpa penghormatan terhadap hak tersebut dinilai mencederai harkat dan martabat Puak Melayu.

Penggawa Melayu Riau mengingatkan agar seluruh pihak menahan diri dan tidak memperkeruh situasi. Mereka menyatakan kehadiran 1.200 orang tersebut bertujuan untuk pengawalan moral dan solidaritas, bukan untuk menciptakan konflik baru.

Namun, mereka juga menyampaikan peringatan tegas: jika terdapat tindakan sepihak yang merugikan masyarakat adat, maka dampak sosial yang timbul menjadi tanggung jawab pihak yang memicu situasi.

Rantau Kasai kini menjadi titik perhatian. Bagi Penggawa Melayu Riau, persoalan ini bukan semata soal kebun sawit. Ini soal kehormatan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga:

MALARIA MENGANCAM PESISIR SINABOI, EKSPEDISI MERAH PUTIH PRESISI POLDA RIAU HADIR DENGAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS

4 Agustus 2026 - 21:09 WIB

Wamenkes dan Wamendagri ke Riau, Yeni Astuti Tegaskan Pentingnya Peran Kader TB

4 Agustus 2026 - 19:50 WIB

Jelang HUT ke-81 RI, Lapas Pekanbaru Teguhkan Komitmen Persatuan, Integritas dan Pengabdian

4 Agustus 2026 - 12:54 WIB

Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau Tanam 810 Mangrove Dan Salurkan Berbagai Bantuan Untuk Masyarakat Pesisir Sinaboi

3 Agustus 2026 - 23:09 WIB

Puluhan Oknum Wartawan Pelalawan Diduga Terima Uang Dari Bos Mafia BBM Subsidi

3 Agustus 2026 - 23:03 WIB

Trending di Berita