Menu

Mode Gelap
Sebanyak 70 Orang di Kentucky, AS Tewas usai Diterjang Tornado Dahsyat Kemendag Cabut Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Berita Populer: Uji Coba Gage ke Anyer-Kunjungan Wisman 2022 Diprediksi Rendah Bosen Kerja Kantoran? Jadi Atlet MMA Aja! Di Negeri Sawit, Minyak Goreng Tak Terjangkau Belum Punya Mobil saat Merintis Karier, Andre Taulany: Ke Mana-mana Naik Angkot

Berita

Tiga Anak Gajah Sumatera Tewas di Riau dalam Kurun 7 Bulan

badge-check


					Oplus_131072 Perbesar

Oplus_131072

BENGKALIS-BACARIAU.COM- Kabar duka kembali menyelimuti upaya konservasi gajah sumatera di Riau. Dalam tujuh bulan terakhir, tiga anak gajah betina mati, memicu kekhawatiran serius terhadap masa depan spesies yang terancam punah ini.

Kematian terbaru menimpa Nurlela atau Lela, bayi gajah berusia 1 tahun 6 bulan di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Bengkalis, Sabtu (22/11/2025). Lela ditemukan tak bernyawa pukul 05.30 WIB setelah sebelumnya terpantau kurang aktif meski masih makan dan minum dengan baik. Kepala BBKSDA Riau Supartono membenarkan kabar ini.

“Tim dokter hewan sudah melakukan nekropsi dan mengambil sampel jaringan. Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui penyebab pasti kematian Lela,” ujarnya Minggu (23/11/2025).

Rangkaian duka ini bermula pada 21 April 2025, ketika Gajah Yuni, bayi berusia tiga bulan yang ditemukan terpisah dari kelompoknya di Kampar, meninggal dunia.

“Upaya mengasuhnya oleh induk gajah Puja gagal, dan Yuni mengalami stres berat,” kata Supartono. Hasil laboratorium menunjukkan Yuni mengidap pneumonia serta radang lambung dan usus.

Kesedihan kembali menyergap pada 10 September 2025, saat Gajah Tari, anak gajah betina berusia 2 tahun dari Taman Nasional Tesso Nilo, tewas akibat EEHV, virus mematikan bagi anak gajah.

“Virus ini dikenal sangat agresif dan sering menjadi penyebab kematian mendadak,” jelas Supartono.

Kematian Yuni, Tari, dan Lela menjadi pukulan telak bagi upaya pelestarian. “Tiga-tiganya adalah anak gajah betina yang sangat penting bagi regenerasi populasi. Kehilangan mereka dalam waktu singkat ini benar-benar berat bagi konservasi di Riau,” tegas Supartono.

Tragedi ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap gajah sumatera tidak hanya datang dari luar seperti perburuan dan kerusakan habitat, tetapi juga masalah internal pusat konservasi seperti stres, penyakit, dan penolakan induk asuh.

Sambil menunggu hasil lengkap pemeriksaan Lela, suasana duka menyelimuti PKG Sebanga. Rentetan kematian ini diharapkan menjadi momentum evaluasi menyeluruh agar strategi konservasi diperkuat dan kejadian serupa tidak kembali terulang.

 

 

Sumber: Rtv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga:

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Polsek Sungai Apit Monitoring Tanaman Jagung di Kayu Ara Permai

10 Mei 2026 - 13:04 WIB

Sinergi Polri dan Kelompok Tani di Sungai Apit, Lahan Jagung 1,8 Hektar Dipupuk Demi Panen Maksimal

9 Mei 2026 - 18:31 WIB

Warga Rantau Kopar Mengamuk, Aksi Spontanitas Pecah Saat Polisi Ungkap Jaringan Narkoba

9 Mei 2026 - 10:16 WIB

BNN Turun Tangan di Rutan Pekanbaru, Sosialisasi Bahaya Narkoba hingga Razia Gabungan Diperketat

9 Mei 2026 - 09:26 WIB

KEMENDUKBANGGA/BKKBN Bersama Komisi IX DPR RI Edukasi Pencegahan Stunting dan Perencanaan Keluarga di Rohil

8 Mei 2026 - 20:13 WIB

Trending di Berita