SUMBAR -BACARIAU.COM-Orang Minangkabau dikenal sebagai satu-satunya suku di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di dunia, yang secara konsisten menganut sistem keturunan matrilineal. Ini berarti garis keturunan, termasuk warisan dan suku, ditarik dari pihak ibu. Keunikan ini sering memunculkan pertanyaan, terutama karena falsafah hidup Minang, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK)”, yang berlandaskan pada ajaran Islam, di mana nasab (garis keturunan agama) mengikuti pihak ayah.
Lantas, mengapa budaya yang sudah dipengaruhi Islam ini tetap teguh mempertahankan matrilineal?
Akar Budaya yang Lebih Tua dari Agama
Sistem matrilineal Minangkabau ternyata berumur jauh lebih tua daripada masuknya agama Islam ke Ranah Minang. Nilai-nilai budaya ini sudah lebih dulu diterapkan sebagai sistem garis keturunan dan kekerabatan. Setelah Islam masuk, masyarakat Minangkabau tidak serta merta menghapus sistem adat mereka, melainkan melakukan sinkretisme atau penyesuaian yang cerdas.
Para tokoh adat dan agama Minang memutuskan untuk memisahkan antara suku dan nasab.
Suku (Adat) mengikuti Ibu: Garis keturunan suku (pusako), rumah gadang, dan harta pusaka tinggi diturunkan melalui garis ibu. Ini memastikan keberlangsungan dan kepemilikan komunal dalam kaum (kelompok kekerabatan).
Nasab (Agama) mengikuti Ayah: Sementara itu, orang Minang tetap bernasab kepada ayah, sesuai ajaran Islam. Hal ini dibuktikan dengan peran vital laki-laki (ayah) dalam sistem perwalian, di mana ayah atau saudara laki-laki dari pihak ayah yang menjadi wali untuk menikahkan anak perempuan. Laki-laki juga berperan dalam persoalan warisan (pusako randah) yang diatur oleh syariat Islam, serta bertanggung jawab atas harta pusaka tinggi dan rendah.
Dengan demikian, Orang Minang berhasil menjalankan kedua sistem ini secara bersamaan dan harmonis.
Versi Legenda Matrilineal
Meskipun prinsip adat-syarak telah mengatur keharmonisan sistem ini, terdapat pula versi legenda yang menjelaskan mengapa matrilineal ini muncul. Salah satu cerita yang beredar adalah kisah perjalanan tokoh Minangkabau zaman dahulu, Datuk Katumangguangan dan Datuk Parpatiah Nan Sabatang, saat berlayar di lautan bersama anak kemenakan mereka. Walaupun kebenaran cerita legenda ini tidak dapat dipastikan, ia turut memperkaya khazanah alasan kultural di balik sistem matrilineal Minang yang unik.
Intinya, sistem matrilineal Minangkabau adalah bukti kecerdasan budaya lokal dalam menjaga warisan leluhur sambil tetap menerima dan menjalankan ajaran agama baru. Suku mengikuti ibu, sementara nasab mengikuti ayah.
Penulis: Rizky Rio Rahmat
Sumber Informasi: Harian Haluan, artikel “Banyak Yang tidak Tahu, Tenyata Ini Alasan Orang Minang Menganut Sistem Matrilineal” (Dipublikasikan 9 April 2023).









