Menu

Mode Gelap
Sebanyak 70 Orang di Kentucky, AS Tewas usai Diterjang Tornado Dahsyat Kemendag Cabut Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Berita Populer: Uji Coba Gage ke Anyer-Kunjungan Wisman 2022 Diprediksi Rendah Bosen Kerja Kantoran? Jadi Atlet MMA Aja! Di Negeri Sawit, Minyak Goreng Tak Terjangkau Belum Punya Mobil saat Merintis Karier, Andre Taulany: Ke Mana-mana Naik Angkot

Berita

Bukan Sekedar Gertak Sambal,Bupati Kuansing Akan Mencari Batu Ancam Bendung Aliran Sungai Kuantan

badge-check


					Oplus_131072 Perbesar

Oplus_131072

KUANSING – BACARIAU.COM– Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Dr. H. Suhardiman Amby, menegaskan bahwa ancamannya untuk membendung aliran Sungai Kuantan bukan sekadar gertak sambal. Ia mengaku sudah mulai menyiapkan langkah teknis, termasuk mencari batu dan material lokal yang akan digunakan untuk pembangunan bendungan penahan air jika aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di hulu tak kunjung dihentikan.

Menurut perhitungannya, untuk menutup aliran sungai di Batang Koban, Kecamatan Hulu Kuantan, yang lebarnya sekitar 50 meter, dibutuhkan 3.000 batu cor segi empat seberat satu ton per unit.

“Rumusnya panjang x lebar x tinggi, jadi 50 x 3 x 20 = 3.000 buah batu cetakan. Satu batu butuh 3 zak semen. Batu dan pasir tidak perlu beli karena tersedia di Batang Kuantan. Jadi total semen yang dibutuhkan 9.000 zak, dengan harga Rp75 ribu per zak, sekitar Rp675 juta. Ditambah upah Rp300 juta, total Rp975 juta sudah cukup untuk membendung Sungai Kuantan,” ujar Suhardiman, Sabtu (6/9/2025).

Ia mengingatkan, jika bendungan itu dibangun, puluhan desa di bagian hulu akan terdampak banjir, termasuk di wilayah Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, yang berbatasan langsung dengan Kuansing.

“Kalau ini masih saja berlangsung, kita akan lakukan pembendungan. Jangan salahkan kita bila dampaknya sampai ke desa-desa di Sumatera Barat,” tegasnya.

Menurut Suhardiman, langkah ini bukan ancaman kosong, melainkan bentuk perlindungan terhadap lebih dari satu juta warga Kuansing, Inhu, dan Inhil yang bergantung pada aliran Sungai Kuantan-Indragiri.

Aktivitas PETI bukan hanya merusak kualitas air Sungai Kuantan, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup jutaan masyarakat Riau yang menggantungkan hidup dari aliran sungai.

Sejumlah kajian mencatat penggunaan merkuri (Hg) dalam proses penambangan emas ilegal. Limbah yang dibuang langsung ke sungai membuat air keruh, ikan mati, dan ekosistem terganggu. Merkuri yang masuk ke rantai makanan bisa menyebabkan gangguan saraf, kerusakan organ, hingga ancaman kesehatan jangka panjang bagi masyarakat.

Hasil studi tahun 2013 dari Laboratorium Kesehatan Lingkungan Provinsi Riau menunjukkan, kadar merkuri di beberapa titik di Kuansing masih di bawah ambang batas, namun ada lokasi yang sudah melebihi batas aman. Ini memperkuat kekhawatiran bahwa tanpa penertiban serius, pencemaran merkuri akan semakin parah.

“Kalau dibiarkan, ini bukan hanya soal keruhnya air, tapi menyangkut nasib jutaan rakyat Riau yang menggunakan sungai sebagai sumber air, sumber ekonomi, dan penopang kehidupan sehari-hari,” kata Suhardiman.***

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga:

Antisipasi Lonjakan Arus Balik H+4, Polda Riau Siaga Penuh 24 Jam

24 Maret 2026 - 15:57 WIB

Pemantauan Arus Mudik Riau–Sumbar, Polda Riau Pastikan Lalin Lancar dan Personel Siaga 24 Jam

23 Maret 2026 - 20:58 WIB

Diujung Kunjungan Lebaran, Haru dan Bahagia Menyatu di Lapas Pekanbaru

23 Maret 2026 - 13:06 WIB

Konfrensi Pers Dugaan Pemerasan dan Pengancaman oleh Oknum Mengaku Wartawan, Lapas Pekanbaru Tempuh Jalur Hukum

22 Maret 2026 - 15:37 WIB

Tanpa Sekat Bangsa dan Agama, Lapas Pekanbaru Berikan Remisi Nyepi 2026 Bagi WNA Asal Malaysia

22 Maret 2026 - 10:52 WIB

Trending di Berita