PEKANBARU- BACARIAU.COM-Nama besar leluhur bukan sekadar identitas yang melekat pada garis keturunan. Ia adalah amanah yang harus dijaga melalui sikap, keteladanan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Adek Sukri, yang merupakan keturunan Datuk Majourang, membawa sebuah pesan penting bahwa warisan leluhur tidak boleh berhenti pada cerita masa lalu. Nilai-nilai adat, marwah, persaudaraan, dan kepedulian harus terus dihidupkan di tengah perubahan zaman.
Bagi Adek Sukri, menjadi keturunan Datuk Majourang bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Justru garis keturunan tersebut menjadi pengingat agar tetap rendah hati, menjaga tutur kata, mempererat silaturahmi, dan menghormati setiap orang.
“Keturunan bukan untuk dibanggakan dengan kata-kata, tetapi dibuktikan melalui sikap dan perbuatan.”
Semangat menjaga warisan Datuk Majourang juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antarketurunan dan generasi muda. Sejarah leluhur harus dikenalkan, dicatat, dan diwariskan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Adek Sukri menilai, kekuatan sebuah keluarga besar bukan hanya terletak pada hubungan darah, tetapi pada kemampuan menjaga persatuan. Perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan.
Sebab, marwah leluhur akan tetap hidup ketika keturunannya mampu menjaga persaudaraan, menjunjung adat, serta memberi manfaat bagi masyarakat.
Di tengah derasnya perubahan zaman, nama Datuk Majourang harus tetap menjadi bagian dari identitas yang dirawat dengan penuh tanggung jawab.
Darah menyambungkan keturunan, tetapi keteladananlah yang menjaga nama leluhur tetap harum.
Bagi Adek Sukri, menjadi keturunan Datuk Majourang adalah sebuah amanah: menjaga nama, merawat silaturahmi, dan memastikan nilai-nilai leluhur tetap hidup dari generasi ke generasi.









