PEKANBARU,BACARIAU.COM — Panglima Tinggi Penggawa Melayu Riau, Datuk Afrizal Anjo, bersama jajaran melakukan kunjungan silaturahmi ke Markas Komando Daerah Militer (Makodam) XIX Tuanku Tambusai, Pekanbaru, Riau.
Dalam kunjungan tersebut, Datuk Afrizal Anjo didampingi oleh Encik Faizal dan Datuk Anju Suropati. Rombongan disambut langsung oleh Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) XIX Tuanku Tambusai, Brigadir Jenderal TNI Rudi Hermawan.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban sebagai bentuk mempererat silaturahmi serta memperkuat hubungan antara lembaga adat Melayu Riau dengan jajaran TNI, khususnya Kodam XIX Tuanku Tambusai.
Datuk Afrizal Anjo menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan serta menegaskan pentingnya sinergi antara tokoh adat dan institusi negara dalam menjaga persatuan, keamanan, dan kearifan lokal di Provinsi Riau.
Sementara itu, Brigjen TNI Rudi Hermawan menyambut baik kunjungan tersebut dan berharap komunikasi serta kerja sama yang telah terjalin dapat terus ditingkatkan demi kepentingan masyarakat dan daerah.
Sinergitas antara tokoh pemuda Melayu dan pemegang kendali keamanan merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan situasi yang kondusif. Upaya ini sejalan dengan tujuan masyarakat Melayu Riau yang sejak turun-temurun hidup dalam suasana rukun, damai, dan saling menghormati.
Nilai-nilai tunjuk ajar Melayu yang telah diwariskan oleh para leluhur, mencakup seluruh sendi kehidupan bermasyarakat, seyogianya terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak.
Dalam suasana perbincangan yang hangat dan penuh makna, tanpa disadari waktu petang pun tiba, terasa begitu cepat berlalu. Banyak hal yang masih ingin diungkapkan dalam bincang-bincang tersebut, namun keterbatasan waktu menjadi pemisah.
“Semoga Allah SWT memberkahi pertemuan kami,” ungkap Datuk Afrizal Anjo saat itu.
Lebih lanjut, Datuk Afrizal Anjo menyampaikan pesan moral bahwa kebesaran seseorang tidak terlihat ketika ia berdiri memberi perintah, melainkan ketika ia berdiri sejajar dengan orang lain dan membantu mereka mencapai potensi terbaik dalam diri masing-masing.
“Melayu itu berturai,” ujar Afrizal Anjo, yang bermakna tersusun dalam masyarakat yang rukun dan tertib, mengutamakan ketenteraman dan keharmonisan, hidup berdampingan dengan saling menghargai secara timbal balik—bebas namun tetap terikat dalam tatanan masyarakat.
“Gunung Tahan sama didaki, Sungai Dipinang sama direnang,Jikalau semua bersatu hati, kerja yang payah menjadi senang.”
Petuah Melayu ini mengajarkan bahwa dengan kebersamaan, persatuan, dan keikhlasan dalam melangkah bersama, segala tantangan seberat apa pun akan terasa ringan dan dapat dilalui dengan baik.***









