BACARIAU.COM-Berdiri megah di tepi Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Museum Tuanku Imam Bonjol merupakan monumen penghormatan bagi pahlawan nasional yang menjadi tokoh sentral dalam Perang Padri. Bangunan yang mulai dibangun pada tahun 1987 ini mengadopsi arsitektur Rumah Gadang dengan atap gonjong yang ikonik, mencerminkan identitas kultural Minangkabau yang kuat. Terletak di atas lahan seluas dua hektar, museum ini memiliki keunikan geografis yang jarang ditemukan di tempat lain, yakni keberadaannya yang berdampingan langsung dengan Monumen Tugu Khatulistiwa, menandakan bahwa bangunan ini berdiri tepat di lintasan garis tengah bumi.
Memasuki lantai pertama, pengunjung akan disuguhi perjalanan hidup Muhammad Shahab—nama asli Tuanku Imam Bonjol—melalui silsilah keluarga, catatan sejarah Perang Padri, hingga deretan koleksi pribadi seperti senjata yang digunakan selama masa peperangan. Salah satu artefak yang menarik perhatian adalah lukisan sosok Tuanku Imam Bonjol menunggang kuda, yang merupakan karya dari Jenderal Hoegeng Imam Santoso, mantan Kapolri. Meski beberapa benda asli telah digantikan dengan replika demi alasan keamanan dan pelestarian, atmosfer heroik tetap terasa kuat melalui pajangan pakaian kebesaran para ulama dan pejuang kaum Padri yang dahulu gigih melawan penjajahan Belanda.
Naik ke lantai dua, museum ini memperluas cakrawalanya dengan menampilkan berbagai benda etnografi dan barang antik seperti peralatan dapur kuno, uang kertas lama, hingga keramik bersejarah yang menggambarkan kehidupan masyarakat Pasaman di masa lampau. Selain menyimpan naskah-naskah kuno, museum ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi budaya dengan adanya koleksi alat musik tradisional seperti gamelan dan berbagai ukuran gong. Dengan fasilitas taman yang rindang serta lokasinya yang strategis di jalur utama Sumatera, museum ini bukan sekadar tempat penyimpanan artefak, melainkan gerbang awal untuk menjelajahi keindahan Pasaman, mulai dari perbukitan yang hijau hingga cagar alam Rimbo Panti yang melegenda.
Sumber: Wikipedia









