Menu

Mode Gelap
Sebanyak 70 Orang di Kentucky, AS Tewas usai Diterjang Tornado Dahsyat Kemendag Cabut Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Berita Populer: Uji Coba Gage ke Anyer-Kunjungan Wisman 2022 Diprediksi Rendah Bosen Kerja Kantoran? Jadi Atlet MMA Aja! Di Negeri Sawit, Minyak Goreng Tak Terjangkau Belum Punya Mobil saat Merintis Karier, Andre Taulany: Ke Mana-mana Naik Angkot

Berita

Dimas Eka Yuda, Kreator di Balik Viral Bocah Penari Haluan ‘Aura Farming’

badge-check


					Dimas Eka Yuda, Kreator di Balik Viral Bocah Penari Haluan ‘Aura Farming’ Perbesar

PEKANBARU – BACARIAU.COM– Dokumentasi video karya Dimas Eka Yuda berhasil membawa tradisi Pacu Jalur dari Kuantan Singingi, Riau, ke panggung dunia. Aksi bocah penari haluan (Togak Luan), Rayyan Akhan Dikha, dalam video berdurasi 27 menit itu viral di media sosial dan memicu fenomena global yang dikenal dengan istilah “Aura Farming.”

Video tersebut pertama kali diunggah Dimas ke Facebook pada Mei 2025. Tanpa efek visual maupun musik tambahan, Dimas menampilkan suasana asli perlombaan—suara sorak penonton dan hembusan angin di Tepian Narosa. Hingga Agustus 2025, video itu telah ditonton lebih dari 58 juta kali dan meraih 1,6 juta likes.

Fenomena makin meluas setelah video itu diunggah ulang oleh akun luar negeri tanpa watermark, ditambahkan musik Young, Black & Rich milik rapper Melly Mike. Dari sanalah gerakan khas Dikha—menggulung tangan, mengibas, memberi cium tangan, lalu membentuk hati dengan jari kelingking—menjadi simbol baru selebrasi digital.

Puncaknya terjadi ketika klub sepak bola Prancis, Paris Saint-Germain (PSG), memposting video pemain Achraf Hakimi yang menirukan gaya Dikha. Video tersebut ditonton lebih dari 110,5 juta kali di akun resmi PSG.

“Fenomena Aura Farming justru pertama kali viral di luar negeri, terutama Amerika Serikat. Baru setelah itu viral kembali di Indonesia,” ungkap Dimas, Selasa (26/8/2025).

Dimas mengaku tak menyangka dokumentasi tradisi lokal bisa menjadi tren global. Ia menegaskan tidak mengambil keuntungan pribadi dari viralnya video itu.

“Rezeki ini sepenuhnya untuk Dikha dan keluarganya,” ujarnya.

Dimas juga menceritakan tantangan saat proses pengambilan gambar.

“Saya harus berendam di sungai selama lima jam, dari pukul 13.00 sampai 18.00 WIB. Kadang kamera tersiram air oleh penonton yang antusias di pinggir sungai,” tuturnya.

Meski penuh rintangan, Dimas menganggap dokumentasi Pacu Jalur sebagai bentuk kecintaan pada budaya daerah.

“Kami berharap ke depan, konten kreator budaya lebih diperhatikan. Karena kami tidak sekadar membuat video, tapi juga ikut melestarikanbudaya,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga:

Konfrensi Pers Dugaan Pemerasan dan Pengancaman oleh Oknum Mengaku Wartawan, Lapas Pekanbaru Tempuh Jalur Hukum

22 Maret 2026 - 15:37 WIB

Tanpa Sekat Bangsa dan Agama, Lapas Pekanbaru Berikan Remisi Nyepi 2026 Bagi WNA Asal Malaysia

22 Maret 2026 - 10:52 WIB

Penuh Khidmat, Rutan Pekanbaru Gelar Salat Id dan Serahkan Remisi untuk 885 Warga Binaan

22 Maret 2026 - 02:30 WIB

RokanNet Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447H

21 Maret 2026 - 02:35 WIB

Berlangsung Meriah, Wako Pekanbaru Lepas Takbir Akbar Jalan Kaki 1000 Obor

20 Maret 2026 - 23:36 WIB

Trending di Berita