Menu

Mode Gelap
Sebanyak 70 Orang di Kentucky, AS Tewas usai Diterjang Tornado Dahsyat Kemendag Cabut Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Berita Populer: Uji Coba Gage ke Anyer-Kunjungan Wisman 2022 Diprediksi Rendah Bosen Kerja Kantoran? Jadi Atlet MMA Aja! Di Negeri Sawit, Minyak Goreng Tak Terjangkau Belum Punya Mobil saat Merintis Karier, Andre Taulany: Ke Mana-mana Naik Angkot

Berita

Abdul Hariz: Dari Teknik Kimia ke Konsultan Lingkungan dan Pejuang Literasi

badge-check


					Abdul Hariz: Dari Teknik Kimia ke Konsultan Lingkungan dan Pejuang Literasi Perbesar

PEKANBARU –BACARIAU.COM–  Ketekunan, kerja keras, dan cinta pada ilmu pengetahuan menjadi kompas hidup Abdul Haris, alumni Teknik Kimia Universitas Riau (UNRI) yang kini dikenal sebagai konsultan lingkungan sekaligus penggerak literasi di Pekanbaru. Sosok sederhana namun penuh dedikasi ini membuktikan bahwa ilmu tidak hanya untuk dikaji, tapi juga untuk dimaknai dan dibagikan.

Perjalanan Hariz dimulai dari bangku kuliah, saat ia menempuh studi di jurusan Teknik Kimia UNRI. Di tengah kesibukan akademik yang padat, ia terbiasa memadukan logika teknik dengan kepekaan sosial. “Saya percaya ilmu teknik tak hanya berhenti di laboratorium. Ia harus menyentuh hidup, lingkungan, dan masa depan masyarakat,” ujarnya.

Setelah lulus, Hariz tak memilih jalan instan. Ia membangun kariernya dari bawah—mengawali sebagai asisten teknis dalam proyek AMDAL dan UKL-UPL, hingga akhirnya dipercaya menangani berbagai proyek strategis di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Kini, Haris dikenal sebagai salah satu konsultan lingkungan independen yang kritis dan solutif, khususnya dalam isu tata kelola limbah industri dan pelestarian sumber daya alam.

Namun, Hariz tak berhenti di sana. Di balik profesi profesionalnya, ada jiwa yang rindu membangun kesadaran melalui kata. Ia kemudian bergabung dan aktif dalam komunitas literasi “Pekanbaru BookParty”, wadah para pegiat buku yang rutin mengadakan diskusi, bedah buku, hingga gerakan donasi buku untuk anak-anak di pelosok Riau.

“Menulis dan membaca adalah bentuk perlawanan terhadap keterbelakangan. Literasi itu jembatan perubahan,” ungkap Haris dalam salah satu forum literasi.

Dalam dirinya menyatu dua semangat: teknokrat dan budayawan, yang sama-sama tumbuh dari kecintaan pada ilmu dan kemanusiaan. Ia menjembatani dua dunia—teknologi dan literasi—dengan gagasan bahwa keduanya tidak boleh saling meninggalkan.

Abdul Hariz adalah contoh nyata bahwa ilmu dan nurani bisa berjalan beriringan. Ia bukan hanya membangun karier, tetapi juga membangun peradaban kecil dari halaman buku dan ruang diskusi. Di tengah zaman yang serba instan, ia hadir sebagai pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari orang biasa yang bekerja luar biasa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga:

Silaturahmi Tanpa Batas, IKASMANSA 1990 Rajut Kebersamaan dan Jaga Marwah Persahabatan

31 Maret 2026 - 23:32 WIB

Wali Kota Pekanbaru Serahkan Bantuan untuk 8 Keluarga Korban Kebakaran

31 Maret 2026 - 17:53 WIB

Kapolda Riau Serahkan 20 Mesin Ketinting untuk Nelayan, Dorong Kemandirian Ekonomi Pesisir

31 Maret 2026 - 16:16 WIB

Sinergi Forkopimda, Kalapas Pasir Pangarayan Hadiri Pembukaan Musrenbang RKPD Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2027

31 Maret 2026 - 16:06 WIB

Tingkatkan Literasi WBP, Lapas Teluk Kuantan Perkuat Pembinaan Berbasis Edukasi

31 Maret 2026 - 15:55 WIB

Trending di Berita