Menu

Mode Gelap
Sebanyak 70 Orang di Kentucky, AS Tewas usai Diterjang Tornado Dahsyat Kemendag Cabut Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Berita Populer: Uji Coba Gage ke Anyer-Kunjungan Wisman 2022 Diprediksi Rendah Bosen Kerja Kantoran? Jadi Atlet MMA Aja! Di Negeri Sawit, Minyak Goreng Tak Terjangkau Belum Punya Mobil saat Merintis Karier, Andre Taulany: Ke Mana-mana Naik Angkot

Berita

Museum Tuanku Imam Bonjol: Mengenang Perjuangan Sang Harimau Kuranji di Garis Khatulistiwa

badge-check


					Museum Tuanku Imam Bonjol: Mengenang Perjuangan Sang Harimau Kuranji di Garis Khatulistiwa Perbesar

BACARIAU.COM-Berdiri megah di tepi Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Museum Tuanku Imam Bonjol merupakan monumen penghormatan bagi pahlawan nasional yang menjadi tokoh sentral dalam Perang Padri. Bangunan yang mulai dibangun pada tahun 1987 ini mengadopsi arsitektur Rumah Gadang dengan atap gonjong yang ikonik, mencerminkan identitas kultural Minangkabau yang kuat. Terletak di atas lahan seluas dua hektar, museum ini memiliki keunikan geografis yang jarang ditemukan di tempat lain, yakni keberadaannya yang berdampingan langsung dengan Monumen Tugu Khatulistiwa, menandakan bahwa bangunan ini berdiri tepat di lintasan garis tengah bumi.

Memasuki lantai pertama, pengunjung akan disuguhi perjalanan hidup Muhammad Shahab—nama asli Tuanku Imam Bonjol—melalui silsilah keluarga, catatan sejarah Perang Padri, hingga deretan koleksi pribadi seperti senjata yang digunakan selama masa peperangan. Salah satu artefak yang menarik perhatian adalah lukisan sosok Tuanku Imam Bonjol menunggang kuda, yang merupakan karya dari Jenderal Hoegeng Imam Santoso, mantan Kapolri. Meski beberapa benda asli telah digantikan dengan replika demi alasan keamanan dan pelestarian, atmosfer heroik tetap terasa kuat melalui pajangan pakaian kebesaran para ulama dan pejuang kaum Padri yang dahulu gigih melawan penjajahan Belanda.

Naik ke lantai dua, museum ini memperluas cakrawalanya dengan menampilkan berbagai benda etnografi dan barang antik seperti peralatan dapur kuno, uang kertas lama, hingga keramik bersejarah yang menggambarkan kehidupan masyarakat Pasaman di masa lampau. Selain menyimpan naskah-naskah kuno, museum ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi budaya dengan adanya koleksi alat musik tradisional seperti gamelan dan berbagai ukuran gong. Dengan fasilitas taman yang rindang serta lokasinya yang strategis di jalur utama Sumatera, museum ini bukan sekadar tempat penyimpanan artefak, melainkan gerbang awal untuk menjelajahi keindahan Pasaman, mulai dari perbukitan yang hijau hingga cagar alam Rimbo Panti yang melegenda.

Sumber: Wikipedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga:

Pemko Pekanbaru Menyegel New Paragon,Imbas dari Dugaan Kontes Kecantikan Waria

3 Februari 2026 - 21:14 WIB

BNNP Provinsi Riau Angkat Bicara, Terkait Polemik Menjerat Adil Atra dan Rekannya

3 Februari 2026 - 19:19 WIB

Tanggapan SMAN 2 Dumai atas Pemberitaan Wajahriau.com Terkait Penggunaan Dana BOS Tahun 2024 dan 2025

3 Februari 2026 - 18:41 WIB

Dua Kolektor PT Capella Multidana Ditangkap Polisi Usai Tipu Nasabah Kredit Macet

3 Februari 2026 - 18:37 WIB

“Tangkap Mafia Rokok!” Aksi Keras BALAPATISIA Kepung Bea Cukai Riau

2 Februari 2026 - 22:59 WIB

Trending di Berita