Menu

Mode Gelap
Sebanyak 70 Orang di Kentucky, AS Tewas usai Diterjang Tornado Dahsyat Kemendag Cabut Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Berita Populer: Uji Coba Gage ke Anyer-Kunjungan Wisman 2022 Diprediksi Rendah Bosen Kerja Kantoran? Jadi Atlet MMA Aja! Di Negeri Sawit, Minyak Goreng Tak Terjangkau Belum Punya Mobil saat Merintis Karier, Andre Taulany: Ke Mana-mana Naik Angkot

Daerah

Mengenal Syekh Mudo Abdul Qadim Balubuih: Ulama Sufi, Sang Penjaga Suluk, dan Guru Silek Kumango

badge-check


					Mengenal Syekh Mudo Abdul Qadim Balubuih: Ulama Sufi, Sang Penjaga Suluk, dan Guru Silek Kumango Perbesar

SUMBAR,BACARIAU.COM-Di sebuah sudut Nagari Sungai Talang, Kabupaten Lima Puluh Kota, berdiri sebuah surau legendaris yang menjadi saksi bisu perjalanan spiritual ribuan pencari Tuhan. Surau Belubus, pusat pengajaran yang didirikan oleh Syekh Mudo Abdul Qadim (1875–1950-an), hingga kini dikenang sebagai mercusuar dakwah Tarekat Naqsyabandiyah dan Sammaniyah di Ranah Minang.

Beliau bukan sekadar ulama biasa. Syekh Mudo adalah sosok kharismatik yang memadukan kedalaman ilmu tasawuf, ketangkasan bela diri silek, dan kecintaan yang unik terhadap makhluk Tuhan.

Jejak Intelektual dan Sang Guru Besar
Lahir di akhir abad ke-19, Syekh Mudo Abdul Qadim meniti jalan ilmu dengan berguru kepada ulama-ulama raksasa pada zamannya. Ia menimba ilmu kepada Syekh Abdurrahman Batuhampar (kakek dari Mohammad Hatta) dan Syekh Muhammad Saleh Padangkandih.

Salah satu pengaruh terbesarnya datang dari Syekh Abdurrahman Kumango. Dari sanalah, Syekh Mudo tidak hanya menerima ijazah Tarekat Sammaniyah, tetapi juga mewarisi ketangkasan Silek Kumango, sebuah aliran bela diri tradisional Minangkabau yang sangat melegenda. Perpaduan antara zikir dan pikir, serta kekuatan fisik dan batin, menjadi ciri khas ajaran beliau di Surau Belubus.

Surau Belubus: Destinasi Suluk yang Tenang
Di bawah bimbingannya, Surau Belubus bertransformasi menjadi pusat pengajaran metode Suluk. Terutama pada bulan suci Ramadhan dan Zulhijjah, surau ini akan dipenuhi oleh jemaah yang datang dari berbagai daerah untuk mengasingkan diri dari hiruk-pukuk duniawi demi mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Syekh Mudo dikenal sebagai pengajar yang sabar namun disiplin. Ia menuliskan pemikirannya dalam kitab-kitab tarekat yang hingga kini menjadi rujukan penting bagi para penganut Naqsyabandiyah di Sumatera Barat.

Sisi Manusiawi: Ulama yang Pencinta Kucing
Di balik ketegasan ilmu sufinya, Syekh Mudo memiliki sisi lembut yang sangat menyentuh. Beliau dikenal sebagai seorang penyayang binatang, khususnya kucing. Konon, ke mana pun beliau pergi, kucing-kucing peliharaannya selalu setia mengikuti atau berada di sekelilingnya. Hal ini sering kali dijadikan teladan oleh para santrinya tentang bagaimana seorang ulama besar seharusnya memperlakukan sesama makhluk hidup dengan penuh kasih sayang.

Warisan yang Tak Padam
Hingga akhir hayatnya pada medio 1950-an, Syekh Mudo Abdul Qadim tetap konsisten mengajar. Ia meninggalkan warisan intelektual dan spiritual yang sangat dalam bagi masyarakat Lima Puluh Kota dan Minangkabau secara umum.

Kini, makam dan Surau Belubus tetap menjadi situs penting yang dikunjungi banyak orang, baik untuk berziarah maupun untuk mengenang kembali keemasan masa-masa pengajaran tarekat di jantung ranah minang.*** (Wikipedia)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga:

DLHK Pekanbaru Lakukan Penyesuaian Sistem Sesuai Regulasi,Reza Aulia Tegaskan Tidak Ada Pemotongan Gaji THL 

22 Februari 2026 - 02:10 WIB

Randi Syaputra: Jejak Hijau Lestari Dukung Penuh Green Policing Polda Riau

21 Februari 2026 - 19:07 WIB

Melalui Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi, Pemprov Riau Buka Posko Pengaduan THR

21 Februari 2026 - 17:24 WIB

Polres Kampar Tangkap Pelaku Pencabulan, Masuk Rumah Korban Melalui Jendela

21 Februari 2026 - 17:20 WIB

Semangat Satgas TMMD Kodim 0301/Pekanbaru Tak Surut, RTLH Ibu Sarianis Terus Dibangun

21 Februari 2026 - 14:01 WIB

Trending di Berita