PEKANBARU – BACARIAU.COM– Badan Pekerja Perwujudan Daerah Istimewa Riau (BPP DIR) kembali menggelar rapat terpumpun atau Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Naskah Akademis Daerah Istimewa Riau, pada Senin pagi (18/8), di ruang rapat Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR).
FGD ini menghadirkan dua pemantik, yakni Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak) sekaligus Ketua Tim Naskah Akademis DIR, Prof. Dr. Junaidi, serta Ketua BPP DIR yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR, H. Taufik Ikram Jamil. Diskusi dipandu langsung oleh Sekretaris Umum DPH LAMR, Datuk H. Jonnaidi Dasa.
Melalui forum ini, BPP DIR menekankan pentingnya memperdalam kajian akademis terkait perwujudan Daerah Istimewa Riau, baik dari aspek historis, sosiologis, maupun yuridis. Naskah akademis tersebut diharapkan menjadi landasan konseptual yang kuat dalam memperjuangkan pengakuan resmi status keistimewaan Riau.
FGD kedua ini juga menjadi ruang partisipasi berbagai pihak untuk memberikan masukan dalam penyempurnaan naskah, sekaligus memperkuat argumentasi tentang urgensi Daerah Istimewa Riau.
Datuk Seri Taufik Ikram Jamil dalam sambutannya mengatakan bahwa wacana Daerah Istimewa Riau bukan hanya sekadar gagasan politik, melainkan pengakuan bangsa terhadap budaya Melayu Riau sebagai akar peradaban di negeri ini.
“Daerah Istimewa Riau adalah bentuk penghormatan bangsa terhadap tamadun Melayu Riau. Karena berbicara budaya, berarti kita juga membicarakan tentang kehidupan sosial, ekonomi, dan berbagai aspek yang terkait dengan masyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Datuk Seri Taufik menekankan bahwa cita-cita ini sejalan dengan harapan masyarakat Riau yang mendambakan kemajuan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya.
“Kita ingin masyarakat Riau maju dalam segala bidang, tetapi tetap berpegang pada marwah Melayu. Itulah yang menjadi harapan bersama,” kata Datuk Seri Taufik.**









